Langsung ke konten utama

Selamat Ulang Tahun, Mantan.

 




Selamat ulang tahun untukmu mantan

Sepotong masa lalu yang enggan dijadikan kenangan

Secercah harapan yang lupus karena hati yang tulus

Sebuah kotak berisi tawa dan tangisan

Beserta dengan memori akan kepedihan

Dilengkapi dengan ingatan yang pupus


Tahun lalu masih dapat terucapkan

Tahun lalunya lagi juga masih dapat kuungkapkan

Namun sekarang, setelah ingatan itu hangus

Setelah kamu pergi, terlupakan semua ucapan

Beserta kenangan tawa, canda hingga kepedihan

Tiada lagi harapan dan kenangan 

Mereka telah pupus akibat hati nan tulus


Selamat ulang tahun mantan

Semoga hidupmu terisi dengan manisnya kenangan

Tidak lagi penuh dengan harapan yang pupus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hi,

  “Fi! Cepetan dong gue udah telat nih!” Rafi sibuk mengikat tali sepatunya, langkahnya terhenti di basement dekat parkiran motor. “Makanya kan gue udah bilang, lo tuh gausah banyak gaya, sepatu sekolah aja dipakein tali segala!” “Kan emang peraturannya gitu da,” Hilda merengut, menghentak-hentakkan kakinya pertanda kesal terhadap Rafi. “Udah deh cepetan Fi! Lo tuh lemot banget sih jadi cowok!” Hilda berjalan mendahului Rafi yang masih sibuk mengikat tali sepatunya. Mengejar Hilda kemudian setelah sepatunya terikat dengan aman. Rafi merampas helm dari tangan Hilda, memakaikan helm itu ke kepala perempuan yang tingginya tak begitu jauh darinya. “Fi! Gue bukan anak kecil, udah cepetan!” Rafi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda kesal. Seorang introvert yang tidak pernah marah sekalipun pada Hilda. Yang ia lakukan hanya menuruti apapun yang Hilda katakan dan inginkan. Rafi bisa berjalan sejauh apapun demi menghampiri Hilda yang tersesat di jalanan. “Udah? ...

Gerbong Lima

             Hiruk pikuk kereta malam itu, penuh akan penumpang yang kelelahan. Sikutan dari tiap penumpang membuat Nadifa terpojok di sudut gerbong lima. Ia mengelap pelipisnya, udara pendingin sudah tidak terasa karena penuhnya kereta. Ia menghela nafasnya, tersenyum saat melihat satu tempat duduk di gerbong itu.             'BRUK!'                    Buku yang dipeluk Nadifa jatuh, ia lantas meraihnya.                     "Ini," Tangan seorang lelaki mengambil buku itu. Ia membantu Nadifa yang sibuk menunduk meraih bukunya.                    "Eh, terima kasih."  ujarnya. Wajah Nadifa terkejut saat melihat lelaki itu.                    "Alvi?" tanya Nadifa memastikan, laki-laki itu h...