Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita Pendek

Hi,

  “Fi! Cepetan dong gue udah telat nih!” Rafi sibuk mengikat tali sepatunya, langkahnya terhenti di basement dekat parkiran motor. “Makanya kan gue udah bilang, lo tuh gausah banyak gaya, sepatu sekolah aja dipakein tali segala!” “Kan emang peraturannya gitu da,” Hilda merengut, menghentak-hentakkan kakinya pertanda kesal terhadap Rafi. “Udah deh cepetan Fi! Lo tuh lemot banget sih jadi cowok!” Hilda berjalan mendahului Rafi yang masih sibuk mengikat tali sepatunya. Mengejar Hilda kemudian setelah sepatunya terikat dengan aman. Rafi merampas helm dari tangan Hilda, memakaikan helm itu ke kepala perempuan yang tingginya tak begitu jauh darinya. “Fi! Gue bukan anak kecil, udah cepetan!” Rafi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda kesal. Seorang introvert yang tidak pernah marah sekalipun pada Hilda. Yang ia lakukan hanya menuruti apapun yang Hilda katakan dan inginkan. Rafi bisa berjalan sejauh apapun demi menghampiri Hilda yang tersesat di jalanan. “Udah? ...

Reunian Dua Ribuan

                   Suara keras knalpot kendaraan, menghiasi kedatangan seorang perempuan. Turun melepas helm berkaca gelap, rambut panjang terurai menghiasi kemeja hitam yang ia kenakan. Lantas ia melangkah perlahan melewati pintu kaca, kemudian menyapa segerombol anak muda yang duduk di meja panjang restoran. Terlihat sisa kulit ayam di piring mereka, karena katanya yang terbaik selalu disimpan untuk nantinya. Akibat terlambat, Kathlyn tidak bisa menyisakan kulit ayam seperti kawan-kawannya. Ia hanya menyeruput segelas soda. Itupun soda milik temannya. “Pangling euy lihat Kathlyn,” Ia hanya dapat merespon pujian dengan senyuman. “Masih tinggal di Lembang?” Kathlyn mengangguk. “DIngin banget kan disana,” logat Jakarta terdengar jelas dari mulut Maurin, teman sekelas Kathlyn. Sesekali Kathlyn mengibaskan rambutnya yang setengah pirang keungu-unguan. Kathlyn memperhatikan Wajah demi Wajah yang ...

Meja Resepsionis Hitam.

     Hotel Mulia, tepat pukul tiga di tengah bisingnya Ibukota Jakarta. Aku berdiri dengan cemas, meremas jahitan rok merahku berkali-kali. Sudah hampir tiga bulan ini, pekerjaanku sebagai komisaris berubah menjadi intelijen yang pandai menganalisis. Selalu berharap analisisku selama seperempat tahun ini salah, atau keliru, sayangnya semua harapan itu hilang tak berarah. Sebatas harapan palsu, tanpa ada kepastian yang nyata.      Hotel berbintang ini tidak jauh beda dari hotel lainnya. Yang membuat hotel ini beda adalah keindahan meja hitam tepat di depan pintu masuk. Aku menghampiri meja itu tentu bukan karena keindahannya. Namun, karena meja ini menjadi saksi, suamiku menggesekkan kartu kreditnya di mesin itu. Terletak tepat di atas meja. Resepsionis nampak tersenyum ramah kepadaku, ia seperti langsung bisa mengenaliku.  "Selamat Malam Bu, Ada yang bisa saya bantu?" Aku menoleh, tanpa sadar aku sudah melamun hampir setengah jam menatapi mesin kartu i...

Gerbong Lima

             Hiruk pikuk kereta malam itu, penuh akan penumpang yang kelelahan. Sikutan dari tiap penumpang membuat Nadifa terpojok di sudut gerbong lima. Ia mengelap pelipisnya, udara pendingin sudah tidak terasa karena penuhnya kereta. Ia menghela nafasnya, tersenyum saat melihat satu tempat duduk di gerbong itu.             'BRUK!'                    Buku yang dipeluk Nadifa jatuh, ia lantas meraihnya.                     "Ini," Tangan seorang lelaki mengambil buku itu. Ia membantu Nadifa yang sibuk menunduk meraih bukunya.                    "Eh, terima kasih."  ujarnya. Wajah Nadifa terkejut saat melihat lelaki itu.                    "Alvi?" tanya Nadifa memastikan, laki-laki itu h...

Setelah Kebaktian Usai.

Bartos menutup kafe, merogoh saku mencari kunci sepedanya. Berjalan keluar dari pintu kaca, disambut oleh hangatnya matahari sore. Marienna melintas tepat di depannya saat ia hendak berjalan menuju parkiran sepeda. Menghentikan langkah saat wangi parfum Marienna tercium dari kejauhan. Bartos menoleh ke arah sudut taman kota, Marienna sedang berjalan seraya tersenyum ke arahnya. Mengenakan baju terusan selutut jingga. Menggenggam tas jinjing kecil yang biasanya hanya berisi dompet kecil dan ponselnya. "Habis gereja?" tanya singkat Bartos sambil membuka kunci sepeda. "Iya, baru saja selesai." Bartos tersenyum seraya memakai helm sepedanya. Menaiki sadel sepeda lantas menoleh lagi ke arah Marienna. "Natal sudah hampir datang lagi ya?" Tanya Bartos dengan sedikit kecanggungan yang menusuk dirinya tiba-tiba. "Sudah, baru saja tadi persiapan dengan paman." ujar Marienna sembari merapihkan rambut ikalnya. "Aku pergi duluan, salam untuk paman."...

Sepotong Roti Kadaluarsa

            Kelap-kelip lampu di sudut jalan itu mulai dikerubungi hening dan sepi. Kino berjalan keluar tanpa rasa cemas akibat gelap. Mmebuang satu plastik hitam berisi sampah dari minimarket hari ini. Sebagian besar berisi botol antiseptik dan masker. Sampah itu terkumpul akibat dari virus yang sedang berkumpul Kino pun masih memakai masker medis hijau miliknya. Meskipun virus sedang berkumpul, Kino harus tetap menafkahi diri beserta keluarganya. Kino menoleh ke kanan dan kiri, tampak mencari seseorang di belakang minimarket itu. Belum ada siapapun terlihat melintasi jalan kecil penuh dengan sambungan kabel listrik beserta tiangnya. Kino memutuskan untuk masuk lagi, kemudian mencuci tangannya. "No!" seruan seseorang membuatnya berhenti melangkah dengan tangan yang masih basah. Kino tersenyum, Tora terlihat di seberang jalan sembari melambaikan tangan. "Kirain kamu ndak dateng hari ini," ujar Kino seraya berjalan ke arah Tora. "Ya datenglah, orang l...