Langsung ke konten utama

Postingan

Selamat Ulang Tahun, Mantan.

  Selamat ulang tahun untukmu mantan Sepotong masa lalu yang enggan dijadikan kenangan Secercah harapan yang lupus karena hati yang tulus Sebuah kotak berisi tawa dan tangisan Beserta dengan memori akan kepedihan Dilengkapi dengan ingatan yang pupus Tahun lalu masih dapat terucapkan Tahun lalunya lagi juga masih dapat kuungkapkan Namun sekarang, setelah ingatan itu hangus Setelah kamu pergi, terlupakan semua ucapan Beserta kenangan tawa, canda hingga kepedihan Tiada lagi harapan dan kenangan  Mereka telah pupus akibat hati nan tulus Selamat ulang tahun mantan Semoga hidupmu terisi dengan manisnya kenangan Tidak lagi penuh dengan harapan yang pupus.

Sepotong Roti Kadaluarsa

            Kelap-kelip lampu di sudut jalan itu mulai dikerubungi hening dan sepi. Kino berjalan keluar tanpa rasa cemas akibat gelap. Mmebuang satu plastik hitam berisi sampah dari minimarket hari ini. Sebagian besar berisi botol antiseptik dan masker. Sampah itu terkumpul akibat dari virus yang sedang berkumpul Kino pun masih memakai masker medis hijau miliknya. Meskipun virus sedang berkumpul, Kino harus tetap menafkahi diri beserta keluarganya. Kino menoleh ke kanan dan kiri, tampak mencari seseorang di belakang minimarket itu. Belum ada siapapun terlihat melintasi jalan kecil penuh dengan sambungan kabel listrik beserta tiangnya. Kino memutuskan untuk masuk lagi, kemudian mencuci tangannya. "No!" seruan seseorang membuatnya berhenti melangkah dengan tangan yang masih basah. Kino tersenyum, Tora terlihat di seberang jalan sembari melambaikan tangan. "Kirain kamu ndak dateng hari ini," ujar Kino seraya berjalan ke arah Tora. "Ya datenglah, orang l...

Melepas hingga bebas.

  Sastro bersandar di belakang pintu kamarnya. Kemeja hitam masih ia pakai dengan rapi. Rambutnya acak-acakan hampir seirama dengan berbagai macam buku di kamarnya yang kacau balau. Sastro meremas lagi kepalanya. Menonjok berkali-kali kaca yang berlumuran darah di bilik kamarnya. Tangisan sudah tak lagi asing ia lihat di wajahnya. Terpampang wajah manis wanita di kacanya. Wajah Seira yang akan selalu dirindukannya. Ia terisak kembali. Sudah berpuluh kali Ibunya mengetuk pintu kamar Sastro memanggilnya untuk keluar. Sastro masih enggan bersuara, air mata masih terus mengalir di matanya. Jatuh tanpa bertanya apakah Sastru pernah rapuh. Sastro sudah tidak berdaya lagi. Ia mengusap air matanya pelan, duduk di atas ranjang. Pikirannya melayang seakan Seira berada di sampingnya berkata "Hei bujang, kau terlihat jelek kalau menangis begini." Suara menyebalkan Seira akan selalu terdengar di telinganya. Suara Seira yang selalu menyuruhnya untuk berhenti merokok ataupun mabuk di tengah...